Sederhanamu adalah rumitnya

Apa-apa yang menurutmu sederhana, bisa jadi rumit untuk sebagian orang.

Kamu gak bisa egois, kamu perlu sadar bahwa mereka juga ada.


Tema kali ini adalah tema yang sebenarnya mungkin sudah tak asing lagi terdengar di telinga teman-teman pembaca. Topik tentang kesehatan mental sudah banyak dibicarakan dimana-mana, entah itu via tertulis atau suara. 

Aku bukan tipe orang yang senang membaca, mungkin hanya sekadar melihat postingan selewat di explore instagram itupun karena topiknya sedang hangat dibicarakan. 

Sampai pada akhirnya, beberapa orang datang bercerita kepadaku tentang apa yang mereka alami, tentang perasaannya dan tentang kondisi mentalnya ketika menghadapi sebuah masalah. 

Salah satu diantara mereka mengatakan bahwa:

Aku tidak mengenali diriku ketika sedang marah”

“Aku sering menyakiti diriku sendiri”

“Aku sudah beberapa kali melakukan percobaan untuk bunuh diri”

Tunggu, coba baca ulang kalimat bercetak miring di atas sekali lagi. Apa yang ada di pikiran kalian ketika membaca tentang ini? biasa sajakah? Atau merasa bahwa segala permasalahan yang ada di dalam hidup kalian selama ini tidak ada apa-apanya? 

Ketika itu, ketika aku menjadi penyimak dari cerita temanku ini, aku hanya terdiam. Semua kekuatan rasanya bersatu untuk mengambil hikmah dan pelajaran sebanyak-banyaknya. Mencoba berkomunikasi dan berdiskusi dengan hati-hati agar tidak ada kalimatku yang seolah menyepelekan, menjudge, atau bahkan malah memperburuk kondisi mentalnya. Sebagai manusia yang tahu bahwa setiap orang yang bercerita memiliki kondisi mental dan perasaan yang berbeda-beda, maka cara untuk berkomunikasi dan diksi yang dipilih pun tidak bisa disama ratakan. 

Yang aku tahu, pada dasarnya setiap orang memiliki isu dengan mentalnya masing-masing. Namun yang membedakan adalah kondisi dan situasinya. Beberapa orang mungkin beruntung bisa memiliki keluarga sebagai pendengar dan tempat untuk mengadu yang nyaman, teman-teman dan lingkungan yang positif, rekan kerja yang suportif. Tapi iya, itu hanya sebagian. 

Sebagian lagi kebingungan dan kehilangan arah, yang tak jarang kondisi kebingungan itu yang membuat mereka lari ke hal-hal yang negatif. Lalu, sebenarnya siapa yang perlu disalahkan? Tapi sayang, tulisan ini ditulis bukan untuk mencari siapa yang paling bersalah, tapi tulisan ini ditulis sebagai sarana untuk mengambil hikmah. Agar kita tak merasa yang paling berat ujiannya dan paling rumit masalahnya. Seperti yang kita tahu, di atas langit masih ada langit.

Menurutku, kepekaan kita terhadap kondisi mental orang lain bisa kita tunjukkan dengan bagaimana cara kita memperlakukan orang-orang di sekitar. Cara bersosialisasi, diksi dan intonasi yang dipilih, menyampaikan keluhan, menyampaikan kritik atau saran, dan bahkan melontar candaan sekalipun perlu dipikirkan terlebih dahulu. Karena apa-apa yang menurut kita oke, belum tentu bisa oke juga diterima orang lain. 

Dari kisah orang lain kita belajar, bahwa setiap orang di uji dengan level ujiannya tersendiri. Setiap orang berjuang, setiap orang berusaha untuk hidup lebih baik, setiap orang berusaha membahagiakan orang-orang disekitarnya, walau pada akhirnya setiap orang pernah merasa gagal untuk setiap apa-apa yang ia perjuangkan. 

Dunia ini adalah sarana untuk mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya untuk perjalanan selanjutnya yang lebih panjang. Kalau kamu ingin ke Surga, orang lain pun sama. kalau kamu sedang berjuang untuk meraih Surganya Allah, maka jangan berjuang sendirian. Banyak orang-orang di sekitarmu yang butuh untuk kamu ajak, butuh agar kamu menjadi salah satu sumber kekuatannya. 

Hei! Semangat. 



Komentar

Postingan Populer