Karunia Allah selalu mengalir, bahkan disaat kefuturan itu berkawan denganku
"Ya Allah.. terima kasih untuk segala nikmat-Mu yang selalu tercurah disetiap saatnya. Padahal, ibadah terbaikku seringkali bertahan di saat yang hanya beberapa."
Aku merasakan rasa yang tak berfaedah itu beberapa hari terakhir. Aku merasa tak sedekat dulu dengan-Nya. Aku hanya mengaduh hanya disaat aku butuh, setelahnya aku berlaku biasa saja seolah tak membutuhkan-Nya. Miris, Rabbighfirli..
Aku tau, futurku berasal dari satu sumber yaitu urusan dunia yang lebih mendominasi kehidupanku, seperti pekerjaan rumah, pekerjaan warung, tugas-tugas kuliah yang menumpuk, rasanya selalu bisa kujadikan alasan untukku mengurangi porsi ibadahku. Sekali lagi, miris.
Aku tak mengklaim bahwa sebelumnya aku adalah seorang ahli ibadah, tidak sama sekali. Untuk Istikamah melakukan ibadah-ibadah sunnah saja mungkin bisa dikatakan masih sangat terengah-engah. Tapi mungkin yang membedakan adalah bagaimana caraku mengendalikan hawa nafsu diriku. Jika kemarin walau terengah aku tetap berusaha melakukannya, tapi hari ini ketika aku terengah aku menyerah pasrah begitu saja.
Ketika aku perhatikan papan tulis di dinding kamarku, yang biasanya selalu aku isi salah satunya dengan target ibadah harianku. Hari ini tak lagi, semua bagiannya sesak diisi oleh tugas-tugas kuliah. Sesekali temanku yang berkunjung ke kamarku terkagum melihat papan tulis itu, katanya aku memiliki target. Padahal tidak sama sekali, jika diperhatikan mungkin target duniawiku lebih banyak daripada target akhiratku. Ini adalah catatan terbesarku hari ini, memperbaiki alokasi waktuku setiap harinya.
Detik ini, ketika aku memutuskan untuk menjadi jujur dan mengatakan segala yang aku rasakan melalui media tulisan ini, hatiku meringis dan mataku menangis. Betapa segala kefuturan itu aku sadari, dan yang disayangkan adalah tetap aku ikuti.
Perempuan ini adalah perempuan yang tiap hari belajar dari kesalahan yang ia buat sendiri, dari kekeliruan orang-orang disekitarnya, begitu seterusnya. Banyak kesalahan dan kekeliruan yang sedikit banyaknya membuat hidupnya lebih baik, tapi tak sebanding jika dibandingkan dengan perempuan-perempuan solihah di luar sana.
Perempuan ini, katanya adalah pembelajar sepanjang hayat. Tapi hari ini ia merasa gagal karena tak bisa melawan rasa futurnya. Padahal ia bermimpi bahwa suatu hari nanti Allah izinkan ia untuk menjadi istri dan ibu terbaik. Tapi bagaimana bisa menjadi yang terbaik di esok hari, jika hari ini ia masih mengikuti kefuturannya?
Terima kasih yaAllah, untuk segala nikmat dan kebaikanmu yang selalu tercurah. Untuk segala kasih sayang-Mu yang menarik tanganku dan mengingatkan hatiku kembali agar tak terus terjerumus di jurang kefuturan itu.
Aku akan terus berusaha untuk menjadi versi terbaik dari diriku setiap harinya, tentunya bersama dengan karunia dan kasih sayang-Mu yang selalu menyertai.
Semoga esok tak ada lagi futur yang sefutur hari ini.
Aamiin..
Komentar