Aku terlalu fiksi, untuk kamu yang senyata itu
Tunggu, yang fiksi itu aku atau kamu sih? Pernyataannya kebalik ga? Atau lebih tepatnya kita fiksi dan nyata menurut sudut pandang kita masing-masing? Ah entahlah anggap saja kita sepakat bahwa yang fiksi itu aku ya, karena pembicaraan ini ada dari sudut pandangku.
Oke, mulai..
Seharusnya tak ada yang perlu dikhawatirkan, karena semua manusia tau bahwa apa-apa telah miliki skenario takdirnya tersendiri. Iya, tapi nyatanya rasa khawatir adalah rasa alamiah yang muncul begitu saja dari dalam hati manusia di kondisi tertentu.
Andai aku bisa bertanya perihal apa-apa yang aku khawatirkan, perihal apakah, kenapa, dan bagaimana yang ada di kepalaku tanpa harus menerka dan menikmati luka dan kecewanya karena jawaban dari pertanyaan yang kubuat sendiri.
Nyatanya seperti itu, aku terlalu fiksi untuk kamu yang senyata itu. Satu hal yang pasti di dalam kisah kita adalah bahwa perasaan itu benar adanya walau hanya bermula dari ruang maya.
Aku hanya merasa bahwa aku mengenalmu lebih jauh daripada kamu mengenalku, aku mencari tahu tentangmu lebih daripada kamu mencari tahu tentangku, dan aku sudah sepakat bahwa apa-apa yang menjadi bagian dari kamu, yang fiksi maupun nyata akan aku terima, pun dengan yang kini nampak ataupun tak nampak.
Entah harus dengan bahasa seperti apa aku mengungkapkan semua rasa khawatir itu, aku hanya belum menemukan kalimat yang tepat untuk mengemas semua rasa kekhawatiran itu agar lebih nyaman untuk terbaca tak hanya olehmu, tapi oleh dunia.
Namun untuk saat ini, kurasa kalimat “aku terlalu fiksi, untuk kamu yang senyata itu.” bisa menjadi wakil dari semua rasa khawatirku saat ini. entah bisa diterima dengan makna yang sesuai dengan maksudku atau tidak, yang pasti aku tidak tahu karena aku dan kamu bukanlah Kugy dan Keenan yang memiliki kemampuan untuk bertelepati. Aku dan kamu hanyalah dua manusia yang terbiasa mengandalkan kata untuk bertahan mengarungi lautan pengharapan dan penantian.
Sesekali aku bertanya “apakah semua harapan dan tujuan yang satu di ruang maya itu akan tetap satu di dunia nyata? Atau malah terbelah menjadi dua?” iya, itu sih intinya.
Komentar