Tuan dan mimpi

Dan mimpi kembali menjadi perantara,
Untuk rasa yang kehadirannya tak pernah ingin ditampakkan.

Sebahagia itu aku, 
Ketika Allah mempertemukanku dengan seorang tuan yang akhir-akhir ini semua tentangnya mulai bisa aku kendalikan. 
Entah terkendali, atau hanya bersembunyi.

Aku tak mengerti,
Bagaimana caranya membedakan antara "terkendali dan bersembunyi" keduanya adalah kata yang berbeda, namun hatiku masih sulit untuk membedakan makna dari kedua kata itu.

Tuan, 
Apa kabar? Tapi aku hanya ingin mendengar bahwa kabarmu selalu baik.

Tuan, 
Tadi malam kita bertemu. 
Apakah kau juga merasakan pertemuan itu?

Tuan, 
Kita bercerita banyak disana. 
Kita tertawa bersama, bercerita tanpa kaku tidak seperti Oktober di dunia nyata tahun itu. Hehe lucu memang jika mengingat pertemuan itu, dua manusia yang bersahabat dengan retorika tiba-tiba membeku seketika. Ah apakah kau ingat? Atau hanya aku saja?

Tuan, 
Semoga kau tidak keberatan untuk semua ceritaku ini.
Walaupun aku tidak menyebut siapa namamu, dimana rumahmu, dan seperti apa kamu. Tapi aku tahu betul, kamu akan merasa bahwa kamu masih menjadi tokoh utama di dalam setiap tulisanku. 

Tuan, 
Semoga tidak keberatan, tolong diringankan saja. 

Tuan, 
Jika terganggu, tolong katakan.

Komentar

Postingan Populer