Retorika Tengah Malam

Halo malamku!
Apa rinduku masih bersamamu? 
Dulu aku selalu menyapamu ketika merindu. 

Malam, apakah kau tahu?
Kini semuanya telah berbeda, kuharap jauh lebih baik.
Jarak membuat aku dan kamu sama-sama memahami bahwa semua harapan dan impian itu adalah milik-Nya. Lalu kita menyepakati sepakat yang tidak pernah dibuat yaitu untuk menyusuri jalan sesuai dengan aturan-Nya. Walau tertatih dan terengah.

Tapi sebenarnya bukan itu yang ingin aku ceritakan, anggap saja itu sebagai sedikit prolog di tulisan ini. Aku takut beberapa orang bosan mendengar tentang kerinduan karena selalu menjadi topik yang kuperbincangkan.

Jadi begini, 
Hari ini badanku terasa lebih lelah dari biasanya, namun aku merasa lebih bahagia karena bermakna dan bermanfaat. Aku meyakini bahwa rasa bahagia itu muncul ketika hati dan pikiran kita berjalan beriringan, bekerja sama, dan sepakat untuk menjadi seikhlas-ikhlasnya manusia.

Selepas kuliah magrib tadi, aku putuskan untuk menuntaskan pekerjaan yang dalam durasi waktu cukup lama hanya aku pandangi, berharap tiba-tiba akan selesai seketika. Tapi ternyata tidak ya. 

Apakah pekerjaan itu? Hmm tunggu, adakah nama yang lebih estetik daripada 'menyetrika?'. Iya, itu dia.. 
Sebagian perempuan sering berpendapat bahwa menyetrika lebih menyenangkan dibanding mencuci baju, dan sebagian lagi berpendapat sebaliknya. 

Dan di malam ini, aku mengidentifikasi, menelaah, dan akhirnya bisa menyimpulkan sebuah pelajaran bahwa:
Apapun pekerjaannya, seberat apapun, jika dijalani dengan ikhlas maka akan terasa lebih ringan. Namun, yang jadi permasalahannya adalah hati dan pikiran kita terkadang sulit untuk mengimplementasikan ikhlas di kondisi tertentu. Sebab aku merasakan itu.

Ya begitulah hidup, hidupku sama seperti hidupmu yang penuh dengan perjuangan. Namun memang kita sama-sama tak saling menampakkan prosesnya secara keseluruhan saja. Hingga akhirnya yang dilihat kebanyakan orang hanya hasil akhirnya saja. Iyakan?

Terkhusus diriku,
Terima kasih karena sudah mau selalu belajar dan berjuang setiap waktunya untuk menjadi versi terbaik. 

Sesederhana;
Memilih diam ketika marah bisa menjadi pilihan.
Memilih berjalan ketika rebahan bisa dilakukan. 
Memilih apalagi? Banyak.. banyak hal yang kamu pilih dan kamu perjuangkan sekalipun jalannya tidak terlalu menyenangkan. 

Gapapa..
Dunia kan tempatnya berlelah, karena segala yang indah sejatinya ada di Surganya Allah..

Hei! Semangat~

Komentar

Postingan Populer