Tentang insecure yang pernah bersambung
Berbicara mengenai kekurangan, rasanya tak ada manusia yang luput dari kata kurang. Entah itu kekurangan yang nampak ataupun tidak. Entah itu berbicara fisik atau nonfisik. Iya, nyatanya setiap hari manusia tak jarang bertengkar dengan ego mereka ketika berbicara mengenai kekurangan.
Aku ingin sedikit bercerita, mengenai segala kurang yang tak jarang membuatku merasa ‘insecure’ ya itusih bahasa kerennya. Mungkin tulisan ini juga sebagai bayaran dari tulisan bersambung yang ketika kulihat ternyata tulisan itu ditulis November 2021. Sangat luar biasa ya, butuh pergantian tahun untuk melanjutkan cerita yang bersambung. Emm menyedihkan, sebegitu magerkah dirimu des?
Oke lanjut, untuk mengingatkan kembali mari kita sedikit flashback ke cerita di November 2021.
hari itu, hari Jum’at pagi aku mengalami kecelakaan diperjalanan menuju pasar. Ketika hendak menyebrang, aku tertabrak dari arah belakang. Motor yang aku kendarai tergelincir di aspal, punggung tanganku yang sedang memegang stang motor bergesekan dengan aspal dan tentunya itu meyebabkan darah keluar dengan begitu derasnya.
Pada saat itu, aku menjadi pusat perhatian pengunjung pasar. tak hentinya aku mengucap istigfar dan beruntungnya ada seorang ibu yang memelukku kala itu. Membuat rasa sakit dan panikku bisa sedikit teratasi, melihat benjolan dan luka yang parah di punggung tanganku membuatku mual dan merasa tak kuasa melihat kondisi tanganku sendiri. Orang pertama yang aku ingat adalah papah, ya sedewasa apapun seorang anak perempuan, laki-laki pertama yang ia ingat ketika kesakitan adalah Ayahnya. Tangisku deras, dan berkali-kali aku memanggil “papah.. papah..”
Singkat cerita, laki-laki yang sering kupanggil papah itu datang dengan wajah panik dan seolah merasa sakit ketika anak perempuan satu-satunya terluka. Beruntungnya, jarak pasar dan Rumah Sakit tidak terlalu jauh, sepanjang perjalanan aku memeluk papah dengan erat. Aduh maaf ya aku gak biasa nulis samacam cerpen gitu, jadi maafkan kalau kaku wkwk
Hari itu, hari penuh dengan hikmah. Aku bertanya-tanya:
“kenapa harus di punggung tangan kanan?”
“kenapa harus di hari yang sama dengan pelaksanaan UTS?”
“kenapa harus aku? Padahal aku mengendarai motor dengan sangat hati-hati, aku sudah memberi lampu sen ketika hendak menyebrang, kenapa aku malah ditabrak dengan begitu hebat dari arah belakang?”
Pertanyaan yang banyak, pertanyaan yang sangat mudah untuk kujawab sendiri, Allah membuatku paham bahwa akan selalu ada hikmah dari setiap hal yang terjadi.
Taugak kenapa?
Aku sering sekali merasa tidak bersyukur dengan warna kulitku, bentuk tanganku, apalagi ketika melihat foto atau video perempuan lain yang bertebaran di instagram. Sering sekali aku berkata “tangannya bagus banget.. keliatannya estetik.. gak kaya tanganku..” semoga Allah mengampuniku~
Iya, diakui atau tidak ya rasa insecure itu akan selalu ada. Wajar saja, yang tidak wajar ketika rasa itu terus menerus hadir dan membuat kita kufur akan nikmat lain yang Allah berikan. Padahal seperti apapun bentuk tangannya, mau kecil atau gendut, mau hitam, putih, atau cokelat juga kan masih bisa dipakai. Iyagak? Masih banyak orang yang ingin memiliki tangan seperti tangan yang aku miliki sekarang. :”
Sejak kejadian kecelakaan itu, aku merasakan bagaimana rasanya beraktifitas dengan tangan kiri. Rasanya menyedihkan, menyiksa, juga sangat terbatas. Dan sejak saat itu, aku lebih pandai untuk mensyukuri segala hal yang Allah beri. Walau kecelakaan itu meninggalkan bekas yang tidak indah di punggung tangan kananku, tapi aku bersyukur untuk segala hikmah yang melimpahnya.
Hikmah yang membuatku sadar bahwa tak ada manusia yang sempurna, karena titik kesempurnaan dalam hidup adalah ketika kita bisa mensyukuri segala hal yang Allah beri. Hal yang mungkin dipandang kurang dan rendah dimata manusia, tapi nikmat manfaatnya bisa terasa sempurna ketika kita pandai mensyukurinya.
Komentar