Pukul Setengah Enam

Pukul setengah enam, 
Seperti biasanya, Aku membuka jendela kamarku dan membiarkan udara segar di pagi ini masuk dengan bebas.

Sejenak aku terduduk di tempat tidurku, 
Pikiranku kembali berkelana ke tahun-tahun sebelumnya, tahun di mana aku masih sangat meyakini bahwa aku telah menemukan sosok yang selama ini aku cari. 

Tahun itu, dua ribu dua puluh satu.
Aku mendapatkan jawaban dari segala pertanyaan yang selama tiga tahun menetap di kepalaku. 
Tentang sebuah rasa yang apakah sama atau tidak.
Ternyata, dengan keajaiban dan kemaha Cintaan Semesta rasaku dan rasamu ada di ruang yang sama.

Tahun itu, aku merasa kita menyepakati hal yang tidak pernah ada kata sepakat di dalamnya.
Kamu dengan segala tekad untuk menyelesaikan urusanmu, dan akupun begitu. 
Kita memiliki harapan yang sama bahwa kita akan bertemu dan bersatu di waktu terbaik menurut Allah setelah segala hal yang kita mulai telah diselesaikan. 

Dua tahun kemudian, di akhir tahun dua ribu dua puluh tiga.
Dari ruang visual yang penuh dengan keterbatasan, aku melihat senyummu begitu merekah. 
Iya, kamu telah berhasil menuntaskan salah satu urusan terbesarmu yaitu pendidikanmu. 
Aku turut bisa merasakan rasa bahagia dan bangga dari orang-orang terdekatmu, orang tua, kakak, adik, dan sahabatmu yang ikut serta menjadi bagian di barisan visual itu. 

Satu dua bulan setelah momen bahagiamu itu berlalu.
Ada secuil harapan di dalam hatiku, tentang kabar basa-basi darimu mengenai pencapaian yang telah kamu gapai. tapi ternyata, harapan itu sirna begitu saja. 
karena faktanya, kamu memilih untuk tidak melibatkanku akan hal itu dengan alasan baik yang mungkin suatu saat nanti akan aku ketahui.

Waktu terus berlalu, sampai pada akhirnya aku melihat potret visualmu dengan seseorang. 
Seorang perempuan yang juga menjadi bagian dari deretan potret visual di foto kelulusanmu.
Tapi kali ini berbeda, kalian hanya berdua dan terlihat sangat begitu dekat dan hangat. 
Siapapun dia dan seberapa spesial dia di kehidupanmu, tidak pernah sedikitpun aku bayangkan bahwa akan semudah itu kamu bagikan kepada banyak manusia.
Bertahun-tahun aku menganggap bahwa menjaga perasaanmu adalah hal yang utama, tapi ternyata aku mendapatkan hal yang berbeda.

bersambung...



Komentar

Postingan Populer