Berhenti di Pukul Setengah Sepuluh

 Lanjutan dari Pukul Setengah Enam~

Aku mendapati kenyataan bahwa potret visualku bukanlah menjadi yang pertama yang kamu bagikan kepada banyak manusia. Apapun alasan di baliknya, aku tidak bisa memungkiri bahwa rasa kecewa itu ada. Tapi, jelas itu bukan salahmu. semua kesalahan terletak pada ekspetasi dan harapanku terhadap sosok kamu. 

Tuan, selama ini aku selalu percaya bahwa kamu benar-benar sedang memperjuangkan cerita kita. Salah satunya dengan bukti bahwa kamu bersungguh-sungguh menyelesaikan segala urusanmu. 

Tapi Tuan, apakah aku salah jika di hari ini aku merasa bahwa langkahmu tidak pernah benar-benar berusaha untuk menujuku? Dengan segala hal yang sudah terjadi, perubahan yang kau perlihatkan, teka-teki yang tak kunjung usai, aku merasa bahwa kini aku sudah berada di ujung cerita yang selama ini aku nantikan. 

Tuan, hampir tujuh tahun waktu yang aku habiskan untuk menunggumu. 
Aku mengetahui segala konsekuensi atas pilihanku dari awal. 
Sedikitpun aku tidak memiliki alasan untuk menyesali segala hal yang terlah terjadi, termasuk waktu yang kuhabiskan untuk menunggumu.

Tuan, selama hampir tujuh tahun itu aku belajar banyak hal. 
Hal-hal luar biasa yang aku harapkan bisa menjadi bekal jika kelak Allah mempersatukan kita. 
Hal-hal yang sedikit demi sediki memperbaiki kualitas hidupku. 
Hikmah-hikmah baik yang mungkin tidak akan aku dapatkan jika aku tidak memutuskan untuk menunggumu. 

Tuan, terima kasih untuk banyak hal baik yang telah ditorehkan. 
Jika memang takdir Allah mengharuskan cerita kita berakhir di sini, tak apa. 
Maka.. aku putuskan untuk mengakhiri segala tentangmu juga di sini. 

Sekali lagi, terima kasih.
Selamat berjuang di jalan kebaikan, semoga Allah mudahkan! :)


Komentar

Postingan Populer