It’s not about a title
Iya, ini bukan lagi sekadar mengenai gelar. Bukan juga mengenai foto bertoga dan selempang bertuliskan Sarjana. tapi, lebih dari itu yang paling penting adalah kemana ilmumu akan membawamu berkelana.
Aku
adalah..
Aku adalah orang yang
perlu waktu lama untuk mengenali diriku. Untuk tau sebenarnya apa mauku dan
kemana tujuanku.
Menjadi sosok yang
terkenal plin plan, tidak punya pendirian dan sering mengalami kegagalan itu
adalah ciri khas ku.
Tapi, ada satu hal yang
tak pernah aku sesali yaitu proses liku perjalanan hidupku. Proses
yang tentunya ku telan dan ku nikmati sendirian. Proses yang sering dinilai
sebelah mata oleh banyak mata, tapi atas izin-Nya aku selalu bisa melalui
semuanya dengan baik dan selalu sadar bahwa selalu ada hikmah yang terselip
dari setiap kejadian. Iya, dengan catatan kita menjalani segalanya dengan
ikhlas, maka kita akan dengan mudah melihat hikmah yang Allah selipkan.
Dan sampai pada
akhirnya, perlahan aku mulai tau apa mauku dan kemana tujuanku. Apakah bisa
dikatakan terlambat? Ketika proses untuk menemukan tujuan itu ku dapatkan di
usia 21 tahun? Iya, karena dulu aku
adalah seseorang yang tak miliki cita-cita dan tujuan hidup, jika ditanya “apa
cita-citamu?” aku hanya bisa menjawab “menjadi orang yang sukses” dan bahkan,
pada saat itu akupun tak tahu hakikat sukses yang sebenarnya itu apa. Tapi
nyatanya, tak ada kata terlambat untuk sebuah kebaikan. sesuatu yang mungkin
dimata banyak manusia terlihat lambat, tapi tidak dimata-Nya. Karena Ia selalu
punya skenario terbaik untuk hambanya.
Kegagalanku,
kala itu..
Sempat mengalami
kegagalan di dunia perkuliahan selama satu tahun, dan membuatku akhirnya memilih
untuk berhenti berjuang karena banyak hal baik yang kala itu dijadikan
pertimbangan.
Satu dari banyak hal
baik yang menjadi pertimbangan adalah Setelah lulus dan bergelar nanti, apa kamu
bisa mempertanggung jawabkan gelarmu? Iya, secara waktu itu semua yang
dijalani di Prodi yang dipilih seakan menjadi sebuah kesalahan dan membuatku
terjebak didalamnya. Dan selama satu tahun itu pula, hati dan logika terus
berperang. Sampai akhirnya keduanya memilih untuk berdamai dan mengambil
keputusan yang sama yaitu berhenti berjuang.
Kekhawatiranku
kala itu..
Kekhawatiran akan
pertanggung jawaban gelar di masa depan, tentang ilmu yang dituntut selama
empat tahun untuk mendapat gelar Sarjana Pendidikan, akankah menjadi ilmu dan
gelar yang bermanfaat? Bukan hanya ilmu yang diperjuangkan lalu terlupakan,
bukan pula gelar yang terpajang dibelakang nama lalu selanjutnya tak berguna.
Semua orang bisa memiliki gelar, tapi tidak semua bisa mempertanggung jawabkan
gelar yang dimilikinya.
Tiga
tahun kemudian..
Dan tiga tahun
kemudian, di tahun 2020 Allah mengizinkanku untuk berjuang dibangku kuliah
(lagi) tapi dengan banyak hal yang berbeda dan InsyaAllah hal-hal baik. dengan
niat yang InsyaAllah lurus, hati yang Ikhlas, tujuan yang jelas, dan tentunya
prodi yang berbeda.
Iya, hal-hal baik ini
adalah sesuatu yang tidak aku miliki sebelumnya yaitu ketika kuliah tahun 2017
lalu. Jika tahun 2017 prodi yang aku ambil adalah Bahasa Inggris, di tahun 2020
aku mengambil prodi Bahasa dan Sastra Indonesia. Prodi yang aku banget, tapi
terhalang oleh pemikiran-pemikiran sesat, karena kala itu terlintas banyak
keraguan dihati dan pikiran. Iya, yang utama adalah “Kalau ngambil Prodi Bahasa
Indonesia mau jadi apa? Guru gamau, jadi penulis itu juga kalau akunya pinter”.
Pikiran yang sesat memang, pikiran yang akhirnya membuat perjuangan harus
dihentikan karena pada nyatanya hati tidak bisa dipaksakan. Untuk hidup di
dunia yang bukan dunianya kita itu ya sulit, bisa dibilang buat nafas aja sesak
gitu. Lagi dan lagi, waktu dan proses adalah jawaban terbaik. Kegagalan dan kesalahan
adalah sesuatu yang bisa dijadikan pelajaran berharga agar tidak terulang untuk
yang kedua kalinya.
Akhirnya,
ku menemukanmu..
Akhirnya, aku menemukan
tujuan dan cita-citaku. Jika ditanya “Kenapa memilih Prodi Bahasa dan Sastra
Indonesia?” maka dengan percaya diri aku akan menjawab “Aku
ingin menjadi manusia yang bermanfaat, aku ingin merubah dunianya seseorang
menjadi lebih baik melalui apa yang aku tulis”. Iya, karena memang pada
nyatanya kebahagiaan itu tidak selalu berbentuk materi, tapi ketika kita bisa
menebar manfaat dan berbagi kebaikan dengan oranglain adalah suatu bentuk
bahagia yang tak ternilai harganya.
Niat
yang lurus dan tujuan yang jelas itu penting..
Aku benar-benar
merasakan perbedaan ketika kuliah dulu dan kuliah tahun ini, karena kuliah
tahun ini InsyaAllah niatnya lurus dan tujuannya jelas, semua proses
perkuliahan dirasa selalu berjalan dengan lancar, sesulit apapun tugas yang
dosen berikan selalu bisa dijalani dengan hati yang bahagia, sedetik saja
tertinggal materi rasanya sayang sekali. Kalau dulu, ibaratnya gak ikut kelas
pun rasa sesalpun tak ada. Walaupun pada awalnya aku merasa insecure karena usiaku berbeda jauh dari
teman-teman yang lain. Tapi, setelah
dijalani, ternyata untuk beradaptasi dengan mereka adalah sesuatu yang tidak
terlalu sulit. Karena segalanya tergantung bagaimana kita memposisikan atau
menempatkan diri.
Baik, kembali ke niat
dan tujuan. Jadi, ketika kita mengambil keputusan, apalagi untuk hal-hal yang
penting termasuk masa depan. Hal yang perlu kita lakukan pertama kali adalah
meluruskan niat dan menentukan tujuan. ada baiknya niat yang kita ambil tidak
hanya berorientasi untuk didunia saja tapi juga untuk kehidupan kita di akhirat
nanti. Karena terkadang, ketika orientasi kita hanya dunia, kita seringkali
merasa lelah dan marah ketika diuji. Berbeda ketika kita menyertakan akhirat,
apapun ujian dan rintangan yang dihadapi diperjalanan, kita akan berusaha untuk
selalu kuat dan melakukan segala sesuatunya karena Allah. Karena kita sama-sama
tahu, bahwa Allah tidak akan menguji diluar batas kemampuan hamba-Nya.
Ambil
keputusan karena hati, bukan karena ikut-ikutan...
Muda mudi masa kini,
kebanyakan mengambil keputusan itu karena latah atau ikut-ikutan lingkungannya
atau temannya. Termasuk dalam hal memilih prodi, karena pada nyatanya dunia
setiap orang itu belum tentu sama. Setiap orang punya minatnya masing-masing,
jadi ketika minat itu dipaksakan ya rasanya akan menjadi sesuatu yang
berantakan. Lantas, akankah kita membuang-buang waktu untuk sesuatu yang jelas
bukan dunianya kita? Ketika kita mengambil keputusan karena pilihan sendiri,
maka ketika pada akhirnya kita gagal, kita tidak akan terlalu dalam kecewa ya
karena keputusan itu diambil oleh kita, bukan oranglain.
Hadapi
dan jalani dengan ikhlas..
Untuk hal yang sedang
dijalani, sesulit apapun yang paling penting adalah menjalani dengan ikhlas. Karena
segala sesuatu itu pasti memiliki ujung, termasuk ujian didalam pendidikan.
Karena itu, pentingnya meluruskan niat dan menentukan tujuan diawal pemberangkatan.
Jadi, ketika diperjalanan kita terjebak macet dan panas, kita akan selalu sabar
menjalaninya karena kita ingin sampai pada tujuan awal dan kejutan ditempat
tujuan sudah menanti.
Komentar