Corona dan segala kisahnya

Maret di 2020, tiba-tiba manusia dipaksa untuk berkenalan dengan sebuah virus bernama Corona. Virus yang berasal dari cina dan bermain-main terlalu jauh mengelilingi dunia termasuk Indonesia. Mainnya terlalu lama, dan hingga kini ia masih nyaman bermain sampai lupa waktu. padahal manusia di dunia sudah muak dengan kehadirannya. Karenanya, semua kehidupan berubah, tepatnya dipaksa untuk berubah. Kehidupan yang semula tenang dan normal, tiba-tiba dipaksa untuk berjalan tidak seperti biasanya. Hal yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya seperti banyak perusahaan bangkrut, tempat ibadah ditutup, sekolah diliburkan dan pindah haluan ke online, jaga jarak, wajib memakai masker, sering mencuci tangan, kerja dari rumah dan pembatasan berskala besar. Hal-hal itu adalah hal yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya bukan?

Hal pertama yang jelas terasa perubahannya adalah bidang ekonomi, iya tiba-tiba banyak manusia yang penghasilannya berkurang hampir 80%. Sedangkan makan tetap harus, kebutuhan tetap berjalan, dan yang terjadi adalah ketidak seimbangan antara penghasilan dan pengeluaran. tapi, yang menjadi obat termujarab adalah ketika kita sadar bahwa yang merasakan sulitnya ekonomi bukan hanya satu atau dua orang. Tapi seluruh umat manusia di dunia. Dari yang miskin hingga yang kaya sekalipun, juga merasakan dampaknya. Terbukti dari banyaknya outlet, gerai makanan dan perusahaan-perusahaan besar yang dengan terpaksa harus ditutup karena keadaan yang sangat berubah. Dan itu juga membuat banyak orang yang menggantungkan hidupnya ke perusahaan tersebut menjadi kehilangan pekerjaan, sedangkan untuk berpindah atau mencari pekerjaan yang baru juga sulit. selalu ada orang yang membuat kita harus lebih bersyukur. Karena diatas langit masih ada langit. Ketika kita melihat kehidupan orang lain lebih baik daripada kehidupan kita, kita pun harus ingat bahwa ada orang lain yang menyangka bahwa kehidupan kita lebih baik dari kehidupannya. Iya, manusia dengan segala prasangka dan ketidak puasannya.

Hampir setahun, kita semua mengalami keadaan ekonomi yang sulit. tapi, atas izin-Nya kita masih bisa hidup bukan sampai saat ini? itu terbukti bahwa rezeki kita telah Ia atur seadil dan sebaik mungkin. Asalkan kita mau berusaha, yakin dan selalu berprasangka baik terhadap-Nya.

Ketika ekonomi sulit, tiba-tiba kita juga harus beradaptasi dengan segala Aktifitas yang dilakukan secara online. Termasuk sekolah, banyak hal yang sulit yang dialami masyarakat ketika pemerintah mengeluarkan peraturan bahwa sekolah harus dilakukan secara daring, iya peraturan itu dikeluarkan demi kebaikan kita semua. Demi meminimalisir penyebaran si virus.

Hal yang banyak orangtua keluhkan adalah ketika mereka harus mengeluarkan biaya lebih untuk menunjang fasilitas sekolah daring anaknya. Telepon seluler yang mumpuni, juga kuota internet yang cukup. sedangkan, mereka juga sudah dibingungkan dan disulitkan dengan biaya makan sehari-hari dan kebutuhan pokok lainnya. Apalagi untuk orangtua yang asing dengan telepon seluler, membuat masalah yang ada semakin bertambah dan bertambah lagi.

Tapi, Alhamdulillah.. Ia memberikan masalah selalu sepaket dengan penyelesaiannya, beberapa waktu kemudian pemerintah mengeluarkan bantuan untuk kebutuhan pokok dan kuota internet. Dan itu terbukti sangat membantu, dan patut disyukuri. Walaupun tak sedikit pula masyarakat yang masih mengeluh kurang. Tapi, apakah mengeluh bisa menjadi solusi atas segala ujian yang tengah kita hadapi? Tidak bukan? Maka bersyukurlah.

Dan kita sama-sama tahu bahwa beberapa minggu yang lalu, kita tiba-tiba dikagetkan dengan pemberitaan bahwa Menteri Sosial yaitu Juliari Batubara ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena diduga menerima fee Rp10 ribu untuk satu paket bansos seharga Rp300 ribu. Menteri Sosial itu diduga menerima uang sebesar Rp17 Miliar. Wow! Jumlah yang sangat fantastis bukan? Sebuah ironi, dikala pandemi. Ketika banyak masyarakat yang belum menerima apa yang menjadi haknya, penguasa seolah buta mata dan hatinya. Indonesia adalah Negara yang Limited Edition, Negara yang Menteri Sosialnya bersuka cita diatas duka cita pandemi. Bagaimana bisa seorang manusia tega memakan hak manusia lainnya ditengah-tengah keadaan yang sulit? terbuat dari apa hatinya? Eh, apakah ia masih memiliki hati? Entahlah.

Pandemi juga membuat sosialisasi menjadi sesuatu yang dibatasi. Seolah ada tembok besar yang membentengi satu manusia dengan manusia lainnya untuk berdekatan yaitu si virus. Iya, yang biasanya silaturahim adalah sesuatu yang diharuskan dan sesuatu yang penuh kebaikan, dengan adanya social distancing kita diharuskan untuk menjaga jarak, lagi dan lagi ya demi kebaikan. Dan bersosialisai online adalah salah satu solusinya. Tetap saja, nyata dan maya itu jelas sangat berbeda. Layaknya aktifitas pendidikan yang dilakukan secara maya, awalnya mungkin banyak orang senang karena sekolah diliburkan dan beralih ke online, karena bisa sambil rebahan. Tapi, semua rasa nyaman pun akan menemui batas bosan, termasuk rebahan kan? Rebahan juga capek kali kalau terus-terusan. Iyakan? ada saat dimana kita  merindukan aktifitas normal seperti biasanya yaitu bertatap muka secara nyata, bukan maya. Selain aktifitas pendidikan, aktifitas keagamaan seperti kajian juga dilakukan secara online. Yang biasanya Masjid selalu ramai dikunjungi karena ada aktifitas kajian, kini menjadi sepi. Ya pada nyatanya kita memang harus terbiasa dengan segala aktifitas kehidupan yang harus dilakukan serba online.

Yang paling menyedihkan dari pandemi adalah ketika banyak orang yang harus merasakan kesedihan mendalam karena kehilangan. ketika anggota keluarga, teman atau kerabatnya harus meninggalkan dunia karena terkena corona. Tidak boleh dijenguk, bahkan ketika meninggal pun prosesi pemakamannya dilakukan tidak seperti biasanya. hal yang begitu menyedihkan dan memilukan adalah ketika disaat-saat terakhir mereka, kita tidak bisa membersamai.

Yang pasti, banyak kisah dan hikmah dibalik hadirnya pandemi, kisah yang setiap orang pasti berbeda-beda. Kisah yang walaupun lebih banyak dukanya dibanding sukanya.

Tapi, akan selalu ada banyak hikmah dibalik setiap kisah. Termasuk kisah dikala pandemi, dan hikmah yang utama adalah ketika waktu kita bersama keluarga lebih banyak. Yang awalnya semua anggota keluarga sibuk dengan urusan dan kesibukan masing-masing, karena adanya pandemi waktu yang berkualitas untuk sebuah kebersamaan menjadi lebih banyak. Walaupun, ada juga yang tiba-tiba waktu dengan keluarganya harus terkuras demi sebuah sumpah dan pengabdian. Iya, mereka adalah tim medis, orang-orang pilihan yang InsyaAllah waktu yang mereka habiskan untuk memperjuangkan banyak nyawa akan Allah ganti dengan pahala yang luar biasa melimpah. InsyaAllah..

Hikmah lainnya adalah ketika waktu ibadah kita juga lebih banyak. Yang awalnya selalu ada alasan tak bisa beribadah karena pekerjaan dan kesibukan, kini alasan itu tak ada lagi.

Kini, kita telah melangkahkan kaki di tahun yang baru juga dengan banyak harapan yang baru. Semua resolusi di 2020 yang sempat tertunda, semoga segera bisa dituntaskan. Semoga pandemi juga segera menemui titik akhir, dan kehidupan kembali berjalan seperti biasanya.

 

 

Komentar

Postingan Populer