Suara hati ditengah malamku.

Sakit.. sakit rasanya terus berada di posisi ini. ketika kedua bola mataku melihat sebuah potret tentang mereka, tentang dua insan yang saling memadu kasih dan sayangnya, tentang dua insan yang sampai saat ini masih Allah persatukan.
Senyuman dua insan itu menyadarkanku bahwa mereka memang tidak bisa dipisahkan, mereka sungguh saling mencintai.
Aku menyesal telah masuk terlalu jauh dikehidupannya, menjadi bagian yang begitu dekat dengannya, menjadi bagian yang selalu ditempatkan diposisi yang akan selalu tetap sama sampai kapanpun.
aku menyesal telah mencintainya, aku menyesal telah memutuskan untuk hidup ditengah-tengah suatu hubungan, sampai akhirnya kini aku benar-benar terjebak didalamnya. aku sungguh tidak bisa menemukan dimana letak pintu keluar itu, aku sempat menemukan pintu keluar itu, tapi itu adalah pintu yang salah. pintu itu hanya sebuah pintu yang benar seketika dalam penglihatan samarku. itu hanyalah sebuah pintu yang seketika terlihat benar disaat hati mulai berada dipuncak kebosanan dan kesakitan yang begitu dalam. sampai akhirnya semua kembali lagi, aku keluar dari sebuah pintu yang benar dalam sekilas penglihatan samarku dan masuk ke pintu yang jelas-jelas aku ketahui itu adalah sebuah pintu kesalahan. sebuah pintu yang sekarang ini benar-benar menjebakku, menjebakku dalam sebuah kebahagiaan semu.
Sering terlintas pikiran didalam benakku,,
Kapan kau akan menghentikan mereka yaAllah? kapan engkau akan menghentikan kebahagiaan dan senyuman kebersamaan mereka? kapan posisi wanita itu akan kau gantikan dengan posisiku? kapan semua perjuangan yang aku lakukan selama ini akan berbuah sebuah kebahagiaan dalam kebersamaan? kapan semua tangisanku selama ini akan kau gantikan dengan sebuah kebahagiaan? kapan semua kebosanan dan kejenuhanku selama ini akan kau gantikan dengan sebuah kenyamanan dan kesenangan? kapan semua pengkhianatan yang dia lakukan akan kau perlihatkan kepada wanita itu? kapan sebuah kesakitan dalam penyia-nyiaan itu akan kau gantikan dengan sebuah kebahagiaan dalam pengharapan?
Apa harus aku yang memulai sebuah penghancuran itu? apa iya aku setega dan sejahat itu? jika memang aku berniat ingin menghancurkan, kenapa tidak aku lakukan dari awal? kenapa barusekarang,  setelah aku sudah banyak merasakan kesakitan dan ketidaknyamanan ini?
Bukan itu yang aku mau, aku tak ingin aku yang memulai, aku tak ingin memulai sebuah penghancuran yang akan berujung dengan sebuah kebencian. aku hanya ingin Allah menunjukkan kebesaran dan keajaibannya untuk semua ini.

Komentar

Postingan Populer