Aku benci.
Suara jangkrik dan hembusan angin yang sedikit masuk melalui celah jendela di malam ini, cukup membuat diriku merasa memiliki teman walau keduanya tak bisa diajak bicara. Aku selalu menikmati dan mensyukuri malam sepi yang Allah hadirkan, karena dengan itu aku mendapatkan banyak ketenangan yang tidak aku dapatkan di kala ramai.
Aku benci,
kenapa ya judul dari tulisan ini harus seperti itu? Sangat terdengar angkuh dan
tidak ramah di telinga. Tapi jelas, memang frasa itu yang tepat menggambarkan
perasaanku saat ini. Perasaan yang selama bertahun-tahun selalu coba untuk kukendalikan agar tetap ada pada track
yang seharusnya. Dan di malam ini, tracknya
sedikit melenceng dan cukup membuat hatiku sedikit amburadul.
Aku
benci ketika aku harus memikirkan seseorang di tengah banyaknya kewajiban yang
harus aku tuntaskan.
Aku
benci ketika aku menyadari bahwa aku merindukan seseorang secara tiba-tiba di
waktu yang tidak aku inginkan.
Aku
benci ketika aku tahu aku memikirkan dan merindukan seseorang dan di waktu yang
bersamaan aku menyadari bahwa ada banyak batas yang tak bisa kutebas.
Aku pernah
sampai di satu titik dimana aku mencoba berkomitmen dengan diriku sendiri untuk
tidak menyertakan apapun yang berkaitan dengannya. Namun di malam ini, maaf..
ternyata “kata” masih menjadi salah satu media yang membuatku nyaman untuk
mengutarakan segala rasa. Tidak hanya untuk kebaikan diriku, tapi kebaikan
banyak manusia.
Komentar