J a r a k
Aku ingin menyapamu malam ini, selepas tugas yang levelnya berat telah tuntas ku kerjakan. Sebenarnya, aku sedang dilanda virus malas mengetik, apalagi di gawai. Tapi, aku lawan segala kemalasanku demi untuk menyapamu.
Ini mengenai aku, kamu, dan jarak yang baru saja ku ciptakan. Jarak yang sebenarnya tak pernah kuinginkan, tapi harus ku lakukan. Iya, kamu tahu jarak apa yang kuciptakan diantara aku dan kamu.
Aku yakin, kamu mengerti. Semua yang kulakukan berlandaskan banyak kebaikan. Aku ingin kita lebih fokus terhadap apa yang sedang kita perjuangkan agar segera terselesaikan tanpa harus melibatkan perasaan dan harapan lebih jauh.
Kita sama-sama tahu, bahwa segala rasa yang muncul itu datang dari-Nya. Dan ironi sekali rasanya, jika rasa dan harapan diantara kita tumbuh semakin besar melebihi rasa dan harapan kita kepada-Nya.
Jika segala rasa dan harapan ini bisa disebut dengan cinta, bukankah lebih indah jika cinta itu tumbuh berjalan berdampingan dengan kecintaan kita terhadap-Nya?
Mungkin kini, caraku menyalurkan perasaan kepada orang yang aku kagumi lebih baik dari caraku yang dulu. Tapi tetap, porsinya dan penempatannya tak beda jauh dengan yang dulu. Dan itu membuatku paham bahwa penyebab harapan itu semakin tumbuh tak terkendali adalah karena aku belum menempatkan cintaku kepada-Nya menjadi cinta yang utama diatas segala-galanya.
Aku dan kamu, jika kita memang sama-sama sudah meyakini satu sama lain. Jika kita merasa tak perlu lagi mencari karena telah sama-sama menemukan, maka kita hanya perlu bersabar bukan?Mempersiapkan segalanya agar benar-benar kuat untuk ditempa dan berakhir di Syurga-Nya.
Saat ini, aku tak ingin menjadi tambahan beban di dalam pikiran dan kehidupanmu. Perasaan dan pikiran yang tak jarang ku tuangkan dalam kata-kata di sosial media itu sedikit banyaknya bukankah menjadi tambahan beban untukmu? Dan aku tak inginkan itu.
Kamu disana berjuang dengan segala hal yang menurutmu perlu dituntaskan,
Dan aku disini berjuang untuk menunggu waktu dimana kamu berkata "Aku telah menuntaskan apa yang sudah aku mulai.."
Satu hal yang perlu kamu tahu, aku bersyukur karena miliki orang tua yang jalan pemikirannya selalu berdampingan dengan jalan pemikiranku. Mereka tak pernah menuntut apapun kepadaku..
Tak hanya aku yang menunggu, orang tuaku juga. Tak perlu merasa terburu-buru, tulisan ini hanya sebagai mediaku untuk menyampaikan pesan kepadamu. Juga, sebagai pengingat bahwa ada perempuan yang selalu menunggumu.
Sekali lagi.. Selamat berjuang, semoga selalu Allah mudahkan.
Komentar