Lelah
Hari ini aku lelah, lelah karena apa aku pun tak tahu. Padahal, sudah banyak hari melelahkan yang tingkat lelahnya lebih dari hari ini. tapi entah kenapa, hari ini terasa begitu berat dari biasanya. jika dibilang lelah karena kuliah dari pagi sampai sore, mungkin pekan-pekan yang telah lalu juga akan selelah ini. tapi nyatanya tidak, pekan yang telah berlalu bisa dilalui dengan baik dan menyenangkan atas izin-Nya.
Sesekali ku tengok jam dinding,
berharap waktu isya segera tiba. Tapi ternyata, waktu pun ikut berjalan lebih
lambat dari biasanya. ingin rasanya segera Isya, lalu setelahnya tidur dan
bangun esok pagi dengan lelah yang telah musnah dan terganti dengan semangat
yang teramat.
Lalu bagaimana jika seperti ini? apa
solusi dari sebuah rasa lelah? Menyerah? Tidak. Menyerah bukan sebuah pilihan
yang tepat, mungkin ia bisa menghilangkan lelah tapi untuk jeda yang sementara.
Setelahnya? Ya sesal melanda, dan pasti akan terbitlah kalimat “kalau aja dulu gak nyerah..” aduh
jangan sampai deh ya kalimat itu terucap. Karena ya memang benar, menyerah
bukan sebuah pilihan yang tepat.
Manusia dilanda lelah ya wajar bukan? Tapi
pilihan yang seharusnya dipilih adalah merebah, bukan menyerah. Iya,
beristirahatlah sejenak tuk mengistirahatkan jiwa dan raga. Karena kita pun
sama-sama tahu bahwa Dunia itu tempatnya berlelah dan bersusah payah.
Anggap saja lelah yang hadir ini
adalah sebuah ujian, ujian disaat kita berniat melakukan sebuah kebaikan. Bukankah
setan membenci manusia yang melakukan kebaikan? Lawan ayo lawan, masa mau kalah
sama setan. Malu dong!
Aduh, ya berbicara itu kan lebih mudah
daripada merealisasikannya. Iya sih, tapi pada nyatanya, manusia pertama yang
paling tahu diri kita ya adalah kita sendiri. Maka, ketika lelah melanda, yang
paling tahu solusi jitu untuk mengatasinya adalah diri kita sendiri. Bukan oranglain,
teman, apalagi mantan. Hah? Apa itu mantan?
Adzan isya sudah berkumandang, aku ingin segera bersitirahat. terimakasih sudah mau menemani ceritaku malam ini.
Komentar