Sibodoh dengan kisahnya yang sama
Selalu ada usaha dalam setiap waktu yang aku lalui, usaha
yang dari dulu tetap sama. Usaha untuk melupakannya..
dua hari terakhir ini, aku berusaha kembali untuk melakukan usaha yang sebelumnya sempat terhenti.
dua hari terakhir ini, aku berusaha kembali untuk melakukan usaha yang sebelumnya sempat terhenti.
Dua hari terakhir ini, aku berusaha menjauhinya.. berusaha
untuk tidak bertemu dengannya bahkan berusaha untuk tidak melihat sosoknya.
Bahkan, ketika aku tidak melihat dan bertemu dengannya pun,
aku masih saja merasakan rasa sakit. Rasa sakit karena aku harus berusaha
menutupi rasaku kepadanya dengan cara
melakukan hal yang seolah aku sudah melupakannya.
Sampai kapan akan seperti ini? Berusaha menunjukkan bahwa
diri ini tegar, tapi kenyataannya? Tidak sama sekali.
Masih ada airmata ketika aku mengingatnya, masih ada bahagia
yang terpendam ketika melihatnya terlihat begitu bahagia dengan dunianya. Walaupun
kini, aku bukan lagi menjadi bagian dari dunianya.
Masih teringat jelas, ketika tanggal 23 Oktober 7 hari yang
lalu, hubungan kita masih sangat begitu dekat. Dia masih menjadi alasan dibalik
bahagia sederhana dihari Specialku. Dia membawa sebuah cake ulang tahun, dan
dia menyuapiku :’v cieee
Tapi nyatanya, bahagia itu hanya bertahan beberapa jam saja,
setelah momen2 special itu berakhir.. dia menjadi sosok yang seolah lupa dengan
momen special yang terjadi sebelumnya. Mungkin, hanya special bagiku.. tidak
untuknya.
Kini, mungkin kita masih berteduh dibawah langit dan
berpijak dibumi yang sama tapi dengan jalan kebahagiaan dan kehidupan yang
berbeda. Terkadang, aku tak mengerti dengan perasaaanku sendiri.. ketika aku
bertemu dengannya, aku memang sangat membencinya. Mengingat begitu dalamnya luka
yang telah dia goreskan dihati ini. Tapi,
ketika aku benar-benar merasa sendiri dipenghujung malam yang sepi, dia masih
menjadi satu-satunya sosok yang aku pikirkan pertama kalinya.
Seberapa sempurnakah sosoknya hingga tak pernah sedikitpun aku
berhasil melupakannya dan menghapus rasa yang tak biasa ini untuknya?
Percayalah, ini bukan masalah Seberapa sempurnanya dia,
tapi.. seberapa besar rasa nyaman itu ada ketika aku bersamanya.
Bukankah selama ini aku tak pernah peduli dengan
kekurangannya? Dan bukankah diapun tak pernah peduli dengan apa yang telah aku
lakukan dan telah aku korbankan untuknya? Kurang bodoh apa lagi aku ini :’v
Komentar