Tentang aku, dan secuil impian perihal pernikahan

Sesekali lupa, sesekali khilaf, kemudian menyadari dan belajar untuk tak mengulangi. Sepertinya begitu pola kehidupan manusia. Ya termasuk diriku.

Di malam ini, melalui tulisan ini. aku ingin mengabadikan sebuah impian dan harapan dari seorang aku. Iya, seorang manusia pemimpi yang mungkin masih sangat minim aksi. 

Semoga apapun cerita yang tertuang di sini bisa menjadi hikmah dan perantara untuk teman-teman mengambil banyak kebaikan dan pembelajaran. 

Jadi begini, mari kita mulai ceritanya. 

Setiap anak pasti menginginkan yang terbaik jika ia berkeluarga kelak, terbaik menurut porsi dan levelnya tersendiri. Beberapa ingin keluarganya kelak menjadi keluarga seperti yang dibangun kedua orang tuanya, dan beberapa lainnya ingin memiliki keluarga yang lebih baik dari bagaimana cara kedua orang tuanya membangun sebuah keluarga. 

Dan mungkin, aku adalah manusia dengan ingin yang kedua. Kenapa? Karena ada banyak hal yang gak bisa aku ceritain sekarang.

Tentang impian membangun sebuah rumah tangga,
semoga Allah mengizinkan aku sampai ke tahap itu kelak, walaupu entah kapan dan dengan siapa. 

Aku selalu bermimpi bahwa kelak akan memiliki keluarga sederhana. Iya, lagi dan lagi sebuah kesederhanaan. Karena untuk segala hal yang aku hadapi dan jalani sekarang, harapanku hanya itu. 

Berharap kelak bisa bersatu dalam ikatan yang Allah ridhoi bersama laki-laki yang satu frekuensi, memiliki visi dan misi yang serupa. Laki-laki seperti apa? Entah, jika beberapa wanita memilih laki-laki yang mapan secara finansial, mungkin aku bukan salah satunya. Dulu aku pernah memiliki pemikiran bahwa kedua orang tuaku juga di awal pernikahan tak memiliki apa-apa, tapi mereka bisa bertahan dengan berjuang bersama. Dan ya mungkin karena apa yang aku lihat realnya seperti itu, maka pola pikirku pun tebentuk sesuai apa yang aku lihat. Dan intinya akupun tak banyak berharap terkait finansial seseorang yang nantinya Allah takdirkan menjadi imamku. Tapi, sampai akhirnya waktu merubah segalanya. Allah menghadirkan sosok yang menyadarkanku bahwa kesehatan finansial itu juga perlu dibicarakan dan dipertimbangkan. Memang tak perlu menunggu mapan, tapi seiyanya urusan-urusan pokoknya dengan diri dan keluarganya yang ia hadapi sebelum menikah sudah tuntas dan tidak dibawa menjadi beban atau masalah di dalam dunia pernikahan. 

Mungkin jika hari ini aku ditanya “ingin menikah dengan laki-laki seperti apa?” maka dengan tegas aku menjawab “dengan laki-laki yang takut kepada Allah” 

Iya, rasa takut seorang hamba rasanya sudah cukup bisa menggambarkan bagaimana cara ia untuk melangkah entah itu dalam hal mengambil keputusan atau dalam menjalani berbagai fase di dalam pernikahan yang lainnya. 

Seorang laki-laki yang takut kepada Allah, ia akan tau bagaimana cara ia  bertanggung jawab terhadap keluarganya, cara berkomunikasi dengan istri dan anak-anaknya, cara untuk tetap memuliakan ibunya walaupun sudah menikah, cara menghormati mertuanya, cara mengadapi berbagai konflik di dalam dunia pernikahan, dls. 

Tapi akupun sadar, bahwa aku juga adalah wanita yang harus terus belajar. Tidak hanya berharap agar bisa mendapatkan calon imam yang sesuai harapan, tapi juga bisa menjadi calon makmum yang diharapkan. 

Ah.. aku melow nih ngetiknya. Banyak sih, cita-cita dan impian setelah menikah nanti. Tapi aku rasa, cerita kali ini dicukupkan sampai di sini ya. 

Komentar